Renungan

SEBUAH RENUNGAN

“ Demi masa, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman & beramal saleh serta manusia yang saling berwasiat dalam kebenaran dan ketakwaan.” firman Allah dalam Qur’an surat Al Ashr ayat 1-3.
Agenda 1426 Hijriyah akan segera kita tutup. Tipis sudah lembaran-lembaran waktunya, mencatat segala ucap dan gerak yang telah kita perbuat. Apa yang sudah terjadi menjadi ketetapan, tak pernah bisa dirubah dan tak akan ada yang bisa merubah. Waktu lampau menjadi kenangan, entah itu manis atau pahit, tapi yang jelas pasti segera berlalu. 1427 Hijriyah adalah fajar kita yang kemudian. Sebagai sebuah buku tulis kosong, masih putih bersih, menunggu segala upaya yang kelak bagai mana kita akan mewarnainya.
Sebelum buku tulis kosong, yang lembaran-lembaran putihnya menunggu untuk diisi itu kita warnai, alangkah baiknya bila kita merenungkan kembali, halaman-halaman agenda 1426 Hijriyah yang tinggal menyisakan kurang dari lima lembar lagi. Mari kita pilah-pilah, mana pelajaran yang bisa kita bawa untuk bekal dimasa mendatang, mana bekal kenangan yang sebaiknya kita tinggalkan di akhir catatan 1426 Hijriyah. Kebijaksanaan kita dalam memilah hari-hari mana yang pantas kita jadikan cermin itulah, yang akan menentukan apakah kita termasuk manusia yang beruntung atau merugi.     

***
Kejayaan dimasa lalu adalah sebuah prestasi. Shalat kita, zakat kita, puasa dan akhlak baik kita dalam muamalah, telah menjadi catatan emas, cerita baik dalam buku masa silam. Sejurus waktu kita telah mengukir prestasi yang berarti bagi dunia dan kelak berbuah di akhirat. Pantas kita bernafas lega, saat memandang torehan warna dan tulisan amal saleh kita setahun lalu, jikalau tinta emas dan warna cerahlah yang berbekas di kertas buku masa lampau itu. 
Seandainya apa yang sudah kita lakukan jauh dari iman, amal saleh dan wasiat kebenaran, patutlah kita mengeluh saat memandang lembar-lembar yang sudah tertitik tinta. Sepenggalan waktu hilang, dan huruf-huruf tercatat hanyalah baris kalimat kosong tak bermakna, tak berarti. Tak ada kepala tegak setelah memandang laman-laman kelam itu. Kita tunduk sebab tersadar, betapa masainya wajah kita diharibaan Sang Pencipta, betapa lusuhnya diri ini dihadapan semua mahluk-mahluk-Nya. Tak jarang kitapun jadi putus asa karenanya.
Namun demikian, ketika agenda 1427 Hijriyah yang masih putih kosong itu kelak sampai ditangan kita dan menunggu untuk dibuka, perlu kita sadari bahwa, tak berbeda antara seorang alim dengan pendosa, tak beda antara pemahat kebaikan dimasa lalu, dengan penoreh kedustaan dimasa lampau. Keduanya berada di tempat sama. Harus bersiap lagi menghadapi ujian berikut.
***
Perlu kita renungi hakikat waktu dan perbuatan-perbuatan yang telah dan kelak kita lakukan. Seandainya kita masih diberi hidup, dikaruniai detik, menit untuk bernafas, masih banyak kemungkinan bisa terjadi. Kesalehan masih mungkin tersaputkan, ketika seorang alim dalam episode kehidupan berikutnya malah tekun berbuat nista. ”Jauhilah sifat hasad (dengki), sebab dengki itu dapat memakan amalan baik, sebaimana halnya api membakar kayu,” jelas suatu hadits. Sebaliknya, kedurhakaanpun masih mungkin terhapuskan, ketika sang pendosa sibuk menutupi huruf-huruf masa lalunya dengan torehan tinta emas, membentuk kalimat-kalimat kebajikan. “Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman, dan mengerjakan amal saleh, maka bagi mereka itu kejahatan mereka diganti oleh Allah dengan kebajikan. Dan Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Al-Furqan: 70). 
Saat agenda 1427 Hijriyah kelak sampai ditangan kita, baik dia yang merasa seorang saleh maupun seorang pendosa hendaknya merasa, bahwa mereka tak berbeda. Seorang saleh tak lebih unggul dari seorang pendosa, dan seorang durhaka tak lebih hina dari seorang saleh. Saat nikmat sempat sama-sama dikaruniakan Allah kepada mereka, ketika itu pula ujian-ujian datang, menilai kadar keimanan dan ketakwaan masing-masing. Seorang saleh masih bisa terkelabui, dan seorang pendosa karena tumpukan dosanya justru bisa sedemikian terpacu untuk menebus kesalahan dengan amal kebaikan. 

Seorang saleh tak akan lebih mudah menulis indah atau begitu saja menyematkan warna cerah, sebagaimana pengalaman-pengalaman hidupnya dalam agenda-agenda waktu terdahulu. Mereka masih harus waspada, sebab ujian-ujian yang lalu tinggal masa lampau, dan ujian-ujian baru yang lebih berat pasti menunggu diseberang masa depan. Seorang pendosapun hendaknya mengubur dalam-dalam kegelapan masa silam, melupakan segala alpa yang telah dilakukan, bertekad kuat untuk menghapus segala salah dengan kebaikan. Hendaknya mereka insyafi, bahwa ketika agenda 1427 Hijriyah diserahkan dan nikmat sempat dipanjangkan, tak hanya pena dan kuas saja yang tergenggam dalam kepalan jiwa mereka. Ada juga sekeping hapusan, yang istimewa, yang bisa membersihkan halaman-halaman masa lalu yang kelam dari warna-warna gelap dan tulisan dosa. Dengan demikian, agenda 1427 Hijriyah bukan saja menjanjikan sebuah tantangan, iapun mengandung harapan bagi siapa saja yang masih diberi nikmat sempat.

 

 

 

Kekayaan, Kesuksesan dan Cinta

 

Suatu ketika, ada seorang wanita yang kembali pulang ke rumah,dan ia melihat ada 3 orang pria berjanggut yang duduk di halaman depan. Wanita itu tidak mengenal mereka semua. Wanita itu berkata: “Aku tidak mengenal Anda, tapi aku yakin Anda semua pasti sedang lapar.Mari masuk ke dalam, aku pasti punya sesuatu untuk menganjal perut. Pria berjanggut itu lalu balik bertanya, “Apakah suamimu sudah pulang? Wanita itu menjawab, “Belum, dia sedang keluar. “Oh kalau begitu, kami tak ingin masuk. 
Kami akan menunggu sampai suami mu kembali, katapria itu. Di waktu senja, saat keluarga itu berkumpul, sang isteri menceritakan semua kejadian tadi. Sang suami, awalnya bingung dengan kejadian ini, lalu ia berkata pada istrinya, “Sampaikan pada mereka, aku telah kembali, dan mereka semua boleh masuk untuk menikmati makan malam ini.
Wanita itu kemudian keluar dan mengundang mereka untuk masuk ke dalam. “Maaf, kami semua tak bisa masuk bersama-sama”, kata pria itu hampir bersamaan.”Lho, kenapa? tanya wanita itu karena merasa heran. 
Salah seorang pria itu berkata, “Nama dia Kekayaan,”katanya sambil menunjuk seorang pria berjanggut di sebelahnya, dan “sedangkan yang ini bernama Kesuksesan, sambil memegang bahu pria berjanggut lainnya. 
Sedangkan aku sendiri bernama Cinta. Sekarang, coba tanya kepada suamimu, siapa diantara kami yang boleh masuk ke rumahmu. 
Wanita itu kembali masuk kedalam, dan memberitahu pesan pria di luar. Suaminya pun merasa heran. “Ohho…menyenangkan sekali. Baiklah, kalau begitu, coba kamu ajak si Kekayaan masuk ke dalam. Aku ingin rumah ini penuh dengan Kekayaan. Istrinya tak setuju dengan pilihan itu. Ia bertanya, “sayangku, kenapa kita tak mengundang si Kesuksesan saja? Sebab sepertinya kita perlu dia untuk membantu keberhasilan panen gandum kita. “Ternyata, anak mereka mendengarkan percakapan itu. Ia pun ikut mengusulkan siapa yang akan masuk ke dalam rumah. “Bukankah lebih baik jika kita mengajak si Cinta yang masuk ke dalam? Rumah kita ini akan nyaman dan penuh dengan kehangatan Cinta. Suami-istri itu setuju dengan pilihan buah hati mereka. “Baiklah, ajak masuk si Cinta ini ke dalam. Dan malam ini, Si Cinta menjadi teman santap malam kita. 

Wanita itu kembali ke luar, dan bertanya kepada 3 pria itu. “Siapa diantara Anda yang bernama Cinta? Ayo, silahkan masuk, Anda menjadi tamu kita malam ini. Si Cinta bangkit, dan berjalan menuju beranda rumah. Ohho..ternyata, kedua pria berjanggut lainnya pun ikut serta. 

Karena merasa ganjil, wanita itu bertanya kepada si Kekayaan dan si Kesuksesan. “Aku hanya mengundang si Cinta yang masuk ke dalam, tapi kenapa kamu ikut juga? Kedua pria yang ditanya itu menjawab bersamaan. “Kalau Anda mengundang si Kekayaan, atau si Kesuksesan, maka yang lainnya akan tinggal di luar. Namun, karena Anda mengundang si Cinta, maka, kemana pun Cinta pergi, kami akan ikut selalu bersamanya. Dimana ada Cinta, maka Kekayaan dan Kesuksesan juga akan ikut serta. Sebab, ketahuilah, sebenarnya kami buta. Dan hanya si Cinta yang bisa melihat. Hanya dia yang bisa menunjukkan kita pada jalan kebaikan, kepada jalan yang lurus. Maka, kami butuh bimbingannya saat berjalan. Saat kami menjalani hidup ini.(afzn.com)

  

 

 

PELAJARAN SANG KELEDAI

Suatu hari keledai milik seorang petani jatuh ke dalam sumur. Sementara si petani, sang pemiliknya, memikirkan apa yang harus dilakukannya.Akhirnya, ia memutuskan bahwa hewan itu sudah tua dan sumur juga perlu ditimbun karena berbahaya. Jadi tidak berguna menolong si keledai. Ia mengajak tetangganya untuk membantu-nya. Mereka membawa sekop dan mulai menyekop tanah ke dalam sumur.
Ketika si keledai menyadari apa yang sedang terjadi, ia meronta-ronta. Tetapi kemudian, ia menjadi diam. Setelah beberapa sekop tanah dituangkan ke dalam sumur, si petani melihat ke dalam sumur dan tercengang melihatnya.Walaupun punggungnya terus ditimpa oleh bersekop-sekop tanah dan kotoran, si keledai melakukan sesuatu yang menakjubkan.Ia mengguncang-guncangkan badannya agar tanah yang menimpa punggungnya turun ke bawah, lalu menaiki tanah itu. Si petani terus menuangkan tanah kotor ke atas punggung hewan itu, namun si keledai juga terus menguncangkan badannya dan kemudian melangkah naik. Si keledai akhirnya bisa meloncat dari sumur dan kemudian melarikan diri.

Renungan:
Kehidupan terus saja menuangkan tanah dan kotoran kepada kita, segala macam tanah dan kotoran. Cara untuk keluar dari “sumur” (kesedihan dan masalah) adalah dengan menguncangkan segala tanah dan kotoran dari diri kita (pikiran dan hati kita) dan melangkah naik dari “sumur” dengan menggunakan hal-hal tersebut sebagai pijakan.

Setiap masalah-masalah kita merupakan satu batu pijakan untuk melangkah. Kita dapat keluar dari “sumur” yang terdalam dengan terus berjuang, jangan pernah menyerah. Guncangkanlah hal-hal negatif yang menimpa dan melangkahlah naik.

 

Ketika Usia Kita Makin Dewasa

 

قال رب أوزعني أن أشكر نعمتك التي أنعمت علي وعلى والدي وأن أعمل صالحا ترضه وأصلح لي في ذريتي إني تبت إليك وإني من المسلمين (الأ حقاف:15)

“Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada ibu-bapakku, serta untuk mengerjakan amal sholeh yang Engaku ridhoi, berilah kebaikan kepadaku dengan memberi kebaikan kepada anak-cucuku. Sungguh aku bertobat kepada-Mu, dan sesungguhnya aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri.” al-Ahqaf (QS 46:15)

Ayat di atas adalah do’a kesadaran akan hakikat hidup yang diajarkan Allah kepada manusia bila mencapai umur 40-an tahun.

Inilah do’a sarat makna yang penuh keterbukaan dan kesadaran akan peran masa lalu (orang tua), masa kini (diri kita sendiri), dan harapan masa depan (anak-cucu). Inilah do’a keselamatan setelah menjalani hidup hingga cukup bekal pengalaman serta berkesempatan untuk menata ulang setelah melihat tantangan proyeksi dirinya di masa depan. Inilah do’a penuh permohonan, penuh kesyukuran, dan penuh pertobatan yang perlu dilantunkan secara khusyuk, intim, dan sepenuh jiwa oleh siapa pun yang punya kesadaran akan umur, posisi, peran, peluang, serta hakikat kehidupannya.

Sungguh ketika seseorang menapaki usia yang ke-40 telah sampailah ia pada fase kearifan hidup. Puncak fase fisik sudah dilampauinya, simpang jalan kehidupan sudah diketahuinya, derita dan bahagia sudah dialaminya, serta jalur, rambu, dan lapis-lapis kehidupan sudah transparan bagi mata batinnya. Pada usia ini, seseorang sudah bisa mengukur secara tepat kekuatan dan kelemahan dirinya, tinggallah kemudian mana pilihan jalan yang akan diteruskanya. Persoalan kehidupan sudah semakin kelihatan berat dan bukan lagi fase fisik, bukan lagi fase coba-coba, melainkan fase kearifan hidup.

Ahli tafsir ada yang menyebutkan bahwa do’a seperti pada ayat di atas diucapkan oleh Abu Bakar As-Shidiq ra ketika kedua orangtuanya menyatakan masuk Islam. Dan, do’a itu masih dilantunkannya setiap hari hingga seluruh anggota keluarga Abu Bakar yang lain masuk Islam. Sedangkan oleh Talhah bin Masyraf kepada Abu Ma’syar ketika dia mengadukan kenakalan anaknya agar anaknya menjadi orang-orang sholeh dan sholehah.

Dua kata kunci pada do’a ini adalah ‘syukur’ dan ‘taubat’. Hakikat syukur adalah penegasan pengakuan diri akan nikmat yang telah diterimanya serta ungkapan rasa terima kasih kepada Allah atas segala kebaikan-Nya. Sementara inti tobat adalah saling ‘berbuat kebaikan’ antara manusia dengan Allah. Dimulai dari manusia yang ‘berbuat kebaikan’ dengan penyesalan kemudian dibalas oleh Allah ‘berbuat kebaikan’ dengan pengampunan dan pemberian rahmat-Nya serta manusia bertobat lantas Allah mengampuninya. Inilah hubungan mesra dan bermakna hakiki antara mahluk dan kholik.

Di zaman yang serba mengkhawatirkan seperti sekarang ini, ketika tantangan dan godaan hidup tidak lagi ringan, sudah selayaknya kita lakukan ikhtiar batin dengan berdo’a dan munajat selain ikhtiar lahir dengan fisik dan pikiran.

Insya Allah dengan laku syukur dan laku taubat, seluruh keluarga kita bisa selamat meniti jalan kehidupan, menapak duniawi sehingga bisa mencapai khusunul khotimah. Amin. 

Pada akhirnya, mari bersama kita renungkan perjalanan kita di persinggahan ini. Hari  berganti hari. Berganti hari, berarti kian dekat pada saat akhir hidup kita. Di dunia ini kita hanya mampir. Bukankah sudah banyak orang yang hidup sebelum kita, yang kini mereka kembali ke asal, menjadi tulang belulang.

Di depan kita, sudah banyak generasi muda yang kini hidup untuk menggantikan kita. Lalu kita mau ke mana, mau ke mana, kita pasti mati, mati adalah tempat mutasi kita yang terakhir. Kita pasti akan mempertanggungjawabkan apa yang telah kita lakukan. Sebanyak apa pun harta yang kita miliki tak akan bisa menolak kematian kita. Sehebat apa pun kekuasaan yang kita genggam, tak akan bisa menghalau kematian walau satu detik, walau kita kuat dan perkasa.

 

Berpikir Sederhana


Terpetik sebuah kisah, seorang pemburu berangkat ke hutan dengan membawa busur dan tombak. Dalam hatinya dia berkhayal mau membawa hasil buruan yang paling besar, yaitu seekor rusa. Cara berburunya pun tidak pakai anjing pelacak atau jaring penyerat, tetapi menunggu di balik sebatang pohon yang memang sering dilalui oleh binatang-binatang buruan. 
Tidak lama ia menunggu, seekor kelelawar besar kesiangan terbang hinggap di atas pohon kecil tepat di depan si pemburu. Dengan ayunan parang atau pukulan gagang tombaknya, kelelawar itu pasti bisa diperolehnya. Tetapi si pemburu berpikir, “untuk apa merepotkan diri dengan seekor kelelawar? Apakah artinya dia dibanding dengan seekor rusa besar yang saya incar?” 
Tidak lama berselang, seekor kancil lewat. Kancil itu sempat berhenti di depannya bahkan menjilat-jilat ujung tombaknya tetapi ia berpikir, “Ah, hanya seekor kancil, nanti malah tidak ada yang makan, sia-sia.” Agak lama pemburu menunggu. Tiba-tiba terdengar langkah-langkah kaki binatang mendekat, pemburupun mulai siaga penuh,tetapi ternyata, ah… kijang. Ia pun membiarkannya berlalu. Lama sudah ia menunggu, tetapi tidak ada rusa yang lewat, sehingga ia tertidur.
Baru setelah hari sudah sore, rusa yang ditunggu lewat. Rusa itu sempat berhenti di depan pemburu, tetapi ia sedang tertidur. Ketika rusa itu hampir menginjaknya, ia kaget. Spontan ia berteriak, Rusa!!!” sehingga rusanya pun kaget dan lari terbirit-birit sebelum sang pemburu menombaknya. Alhasil ia pulang tanpa membawa apa-apa.
Banyak orang yang mempunyai idealisme terlalu besar untuk memperoleh sesuatu yang diinginkannya. Ia berpikir yang tinggi-tinggi dan bicaranya pun terkadang sulit dipahami. Tawaran dan kesempatan-kesempatan kecil dilewati begitu saja, tanpa pernah berpikir bahwa mungkin di dalamnya ia memperoleh sesuatu yang berharga. Tidak jarang orang orang seperti itu menelan pil pahit karena akhirnya tidak mendapatkan apa-apa. 
Demikian juga dengan seseorang yang mengidamkan pasangan hidup, yang mengharapkan seorang gadis cantik atau perjaka tampan yang alim, baik, pintar dan sempurna lahir dan batin, harus puas dengan tidak menemukan siapa-siapa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: